Laman

Rabu, 09 Maret 2011

Keterhijaban dan Baik Sangka

by Achmad Chabib Nursalim on Friday, 04 March 2011 at 12:59

"Dan Tuhanmu berfirman: berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." (Al Mu'min [40]: 60)

Ada sebuah cerita yang menarik yang saya kutip dari sebuah buku. Ketika saya baca, mungkin teman-teman pernah membacanya, tak terasa air mata pun keluar, mengharukan. Semoga bermanfaat untuk kita semua, berikut ceritanya:

Seorang kawan bertanya dengan nada mengeluh.

"Di mana keadilan Allah?", ujarnya. "Telah lama aku memohon dan meminta pada-Nya satu hal saja. Kuiringi semua itu dengan segala ketaatan pada-Nya. Kujauhi segala larangan-Nya. Kutegakkan yang wajib. Ketekuni yang sunnah. Kutebarkan shadaqah. Aku berdiri di waktu malam. Aku sujud di kala Dhuha. Aku baca kalam-Nya. Aku upayakan sepenuh kemampuan mengikut jejak Rasul-Nya. Tapi hingga kini Allah belum mewujudkan harapanku itu. Sama sekali."

Saya menatapnya iba. Lalu tertunduk sedih.

"Padahal," lanjutnya sambil kini berkaca-kaca, "Ada teman lain yang aku tahu ibadahnya berantakan. Wajibnya tak utuh. Sunnahnya tak tersentuh. Akhlaknya kacau. Otaknya kotor. Bicaranya bocor. Tapi begitu dia berkata bahwa dia menginginkan sesuatu, hari berikutnya segalanya telah tersaji. Semua yang dia minta didapatkannya. Di mana keadilan Allah?"

Rasanya saya punya banyak kata-kata untuk menghakiminya. Saya bisa saja mengatakan,"Kamu sombong. Kamu bangga diri dengan ibadahmu. Kamu menganggap hina orang lain. Kamu tertipu oleh kebaikanmu sebagaimana Iblis telah terlena! Jangan heran kalau doamu tidak diijabah. Kesombonganmu telah menghapus segala kebaikan. Nilai dirimu hanya anai-anai beterbangan. Mungkin kawan yang kau rendahkan jauh lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah karena dia merahasiakan amal shalihnya!"

Saya bisa mengucapkan itu semua atau banyak kalimat kebenaran lainnya.

Tapi saya sadar. Ini ujian dalam dekapan ukhuwah. Maka saya memilih sudut pandang yang saya harap lebih bermakna baginya daripada sekedar terinsyafkan tapi sekaligus terluka. Saya khawatir, luka akan bertahan jauh lebih lama daripada kesadarannya.

Maka saya katakan padanya,"Pernahkah engkau didatangi pengamen?"

"Maksudmu?"

"Ya, pengamen," lanjut saya seiring senyum. "Pernah?"

"Iya. Pernah." wajahnya serius. Matanya menatap saya lekat-lekat.

"Bayangkan jika pengamennya adalah berpenampilan seram, bertato, bertindik, dan wajahnya garang mengerikan. Nyanyianmya lebih mirip teriakan yang memekakkan telinga. Suaranya kacau, balau, sengau, parau, sumbang, dan cemprang. Lagunya malah menyakitkan ulu hati, sama sekali tak dapat dinikmati. Apa yang akan kau lakukan?"

"Segera kuberi uang," jawabnya,"Agar segera berhenti menyanyi dan cepat-cepat pergi."

"Lalu bagaiman jika pengamen itu bersuara emas, mirip sempurna dengan Ebiet G. Ade atau Sam Bimbo yang kau suka, menyanyi dengan sopan dan penampilannya rapi lagi wangi, apa yang kau lakukan?"

"Kudengarkan, kunikmati hingga akhir lagu," dia menjawab sambil memejamkan mata, mungkin membayangkan kemerduan yang dicanduinya itu. "Lalu kuminta dia menyanyikan lagu yang lain lagi. Tambah lagi. Dan lagi."

Saya tertawa.

Dia tertawa.

"Kau mengerti kan?" tanya saya. "Bisa saja Allah juga berlaku begitu pada kita, para hamba-Nya. Jika ada manusia yang fasik, keji, munkar, banyak dosa, dan dibenci-Nya berdoa memohon pada-Nya, mungkin akan Dia firmankan pada malaikat: "Cepat berikan apa yang dia minta. Aku muak mendengar ocehannya. Aku benci menyimak suaranya. Aku risi mendengar pintanya!"

"Tapi," saya melanjutkan sambil memastikan dia mencerna setiap kata, "Bila yang menadahkan tangan adalah hamba yang dicintai-Nya, yang giat beribadah, yang rajin bersedekah, yang menyempurnakan wajib dan menegakkan sunnah; maka mungkin saja Allah akan berfirman pada malaikat-Nya: 'Tunggu! Tunda dulu apa yang menjadi hajatnya. Sungguh Aku bahagia bila diminta. Dan biarlah hamba-Ku ini terus meminta, terus berdoa terus menghiba. Aku menyukai doa-doanya. Aku menyukai kata-kata dan tangis isaknya. Aku menyukai khusyu' dan ttnduknya. Aku menyukai puja dan puji yang dilanjutkannya. Aku tak ingin dia menjauh dari-Ku setelah mendapat apa yang dia pinta. Aku mencintai-Nya."

"Oh ya?" matanya berbinar. "Betul demikinkah yang terjadi padaku?"

"Hm...pastinya aku tak tahu," jawab saya sambil tersenyum. Dia agak terkejut. Segera saya sambung sambil menepuk pundaknya, " Aku hanya ingin kau berbaik sangka."

Dan dia tersenyum. Alhamdulillah.

Sahabatku, demikian cerita yang dapat saya paparkan. Cerita ini begitu menyentuh dan mengharukan. Berkhusnudzonlah kepada Allah tentang segala apa yang terjadi pada hidup kita. Insya Allah, hidup ini akan diselimuti syukur kepada Allah dan terasa nikmat. Allahu a'lam.

*dikutip dari Buku Dalam Dekapan Ukhuwah karya Salim A. Fillah, halaman 168-171.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar